Home » » Hari Kedua Sarasehan dan Lokakarya Sekolah Tinggi Manajemen Transportasi ( STMT Trisakti )

Hari Kedua Sarasehan dan Lokakarya Sekolah Tinggi Manajemen Transportasi ( STMT Trisakti )

Ditulis oleh : redaksi bidikfakta pada Rabu, 31 Januari 2018 | 04.43

Bidikfakta.com - Jakarta, Hari kedua Sarasehan dan Lokakarya " Pengembangan dan Pemantapan Wawasan Kebangsaan Dalam Kebhinekaan Bagi Sivitas Akademika STMT Trisakti Yang Mengedepankan Persatuan dan Kesatuan Dalam Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara Sebagai Warga Negara Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI )", yang bertempat di STMT Trisakti ( 31/1/2018 ).

Sri Raharjo selaku Kepala Program Studi ( PRODI ) Logistik STMT Trisakti, menjelaskan bahwa Rencana Pembelajaran Semester ( RPS ) itu sesuai dengan ketentuan Permenristekdikti 44 / 2015 dan disusun berdasarkan struktur capaian pembelajaran, seperti mata pelajaran yang wajib itu ada Pancasila, Agama, Bahasa Indonesia, serta Kewarganegaraan.

" Pencapaiannya itu membentuk lulusan- lulusan yang mempunyai karakter sikap sesuai dengan yang digariskan, Manusia Pancasilais ,NKRI, UUD 1945, itulah yang ditegakkan, apalagi mata kuliah pengetahuan umum maupun khusus, kalau pengetahuan umum ini contohnya saja tentang manajemen secara umum harus tahu matematik, harus tahu statistik", ujar Sri Raharjo di sela acara.

Menurut Raharjo ada namanya pengetahuan khusus, dan inilah Mahasiswa itu di didik belajar melalui pemberian mata kuliah pelajaran.

"Seperti contoh Program Studi ( Prodi ) Logistik, berarti ilmu- ilmu logistik disitu semua dan kita diperintah untuk mencanangkan sesuai STEM (Sience, technology, engineering and mathematics)", tambahnya.

Saat yang sama Ketua STMT Trisakti Dr. Ir. Tjuk Sukardiman memaparkan bahwa dalam konteks bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, sebagai warga negara Indonesia yang mengedepankan persatuan dan kesatuan bangsa, generasi muda harus mengerti tentang ini.

" Oleh karena itu Yayasan Trisakti berkomitmen bersama IKAL- LEMHANAS, bersama - sama dengan Sivitas Akademika Sekolah - sekolah Tinggi di lingkungan STMT Trisakti untuk menjadikan ini sebagai kurikulum tentang wawasan kebangsaan. Jadi nanti implementasinya baik kurikulum wawasan kebangsaan ini adalah Bela Negara, jadi ada korelasi yang erat dengan wawasan kebangsaan dan Bela Negara",papar Tjuk di hadapan awak media.

Menurut Tjuk, generasi muda/generasi NOW harus dibekali ini, kalau tidak, siapa yang menjaga NKRI kedepannya, para ahli - ahli transportasi terutama, karena membangun wilayah memberikan dukungan tetapi harus disadari jiwa Nasional yang tinggi.

"Jadi jangan di pertentangkan Nasionalisme dengan yang lain. Nanti ini runutan daripada jiwa kebangsaan dan ini tentu akan dibangun dengan jelas dari riwayat perjuangan bangsa Indonesia. Itulah sejarah Nasional kebangsaan itu, makanya saya hadirkan beliau ini ( Anhar Gonggong)", tutur Tjuk.

Tjuk memaparkan bahwa nanti di STMT Trisakti adalah yang memulai paling dahulu untuk membuat suatu referensi buku AJAR tentang wawasan kebangsaan dilihat dari perspektif Sejarah Nasional, dari perspektif Bela Negara, dari perspektif Agama.

Menurutnya bagaimana generasi muda itu bisa memahami Pancasila dengan bentuk implementasi Bela Negara dan oleh karena itu sangat mutlak diperlukan pelajaran sejarah.

" Sarasehan dua hari ini yang dimulai dari sejak kemarin, nanti bisa mensintesakan materi- materi untuk dikumpulkan jadi satu rencana pembelajaran semester dalam kurikulum dan silabus yang dibikin jadi satu buku, dan buku kita nanti ada empat buku edisi. Jadi pengembangan dan pembinaan pemantapan wawasan kebangsaan dari perspektif sejarah kebangsaan nasional dan outputnya nanti adalah bentuk buku", terang Tjuk.

Pada kesempatan yang sama, Anhar Gonggong Sejarawan Universitas Indonesia mengatakan " Apa yang dikatakan oleh Pak Tjuk adalah hal yang sangat penting, dalam arti kata bahwa ada kekeliruan yang terjadi selama ini, yaitu mengabaikan hal- hal penting yang mendasari keberadaan dan proses keberadaan Indonesia, yaitu salah satunya mengabaikan sejarah", ujar Anhar.

" Coba anda lihat di sekolah - sekolah, mata pelajaran sejarah di abaikan, sejarah reformasi. Bahkan ada sekolah yang tidak mengajarkan, akibatnya orang tidak memahami dirinya. Saya mau tanya dari mana Indonesia terbentuk, anda tahu dari mana, dapatnya kan dari sejarah", terang Anhar.

" Anda tidak tahu proses adanya Indonesia, anda tidak mengenal diri anda, dan Indonesia itu dibentuk oleh kita bersama, proses pembentukannnya inilah yang harus dipahami betul. Disana semua suku bangsa terlibat, semua Agama terlibat dan kemudian mereka merumuskan apa Bahasa Nasional kita, bisa mempersatukan kita, yang bisa membawa kita saling mengenal, dan bahasa Melayu yang kemudian menjadi Bahasa Indonesia", papar Anhar

Menurut Anhar Hal - hal seperti itu yang harus dipahami, generasi yang akan datang akan mencari sesuatu yang tidak akan pernah ditemukan, karena memang tidak pernah diberitahu.

" Bisa terjadi justru karena kita mengetahui bahwa kemungkinan pengaruh dari globalisasi dan proses teknologi, maka kita seharusnya juga memperkuat diri dengan landasan identitas diri kita, apa landasannya yaitu sejarah", tambahnya.

" Ini yang terabaikan selama reformasi, saya selalu mengatakan pada zaman Pemerintahan dahulu sangat memperhatikan sejarah, zaman Soeharto Orde Baru saja ada dua jenis sejarah. Semua hilang sekarang, terlepas dari itu bagaimana mereka Pemerintahan ketika itu memahami bahwa sejarah itu penting,  itu yang tidak ada dalam Pemerintahan sekarang",pungkasnya.
(RD)

Bagikan :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015. www.bidikfakta.com - All Rights Reserved •
HomeRedaksiPedoman Media SiberDisclaimer
Media Partner :INDIKASINEWS.COM