Home » » Pengaruh Media Sosial Terhadap Nilai-Nilai Kejuangan Prajurit

Pengaruh Media Sosial Terhadap Nilai-Nilai Kejuangan Prajurit

Ditulis oleh : redaksi bidikfakta pada Kamis, 12 Juli 2018 | 19.41

Bidikfakta.com- Perkembangan teknologi dan informasi selain memberikan dampak positif juga telah mendorong dimensi ancaman baru bagi para prajurit TNI AD, demikian disampaikan oleh Tim Dispenad dalam kegiatan  sosialisasi pengaruh media sosial kepada satuan jajaran Kodam VII/Mlw di Makorem 101/Antasari Kamis, (13/07/2018).

Dalam pengantarnya Ketua Tim Dispenad Kol Arh Saptarendra Prasada menyatakan bahwa  revolusi industri generasi 4.0, telah mendorong perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat, sehingga menjadikan dunia dan negara tanpa batas _(borderless)_ dan menerobos dimensi ruang, jarak dan waktu.

"Semua peristiwa dari berbagai belahan bumi dapat dengan segera mengajses dengan cepat hanya dengan hitungan detik atau _real time_. Jika dahulu kita tergantung kepada koran dan televisi maka saat ini opini dan persepsi masyarakat dapat dengan mudah terbentuk dari penyebaran berita dari media online", sambungnya.

Menurut Kasubdis Penerangan Medonline Dispenad ini,  media informasi saat ini juga tengah bertransformasi kedalam media sosial yang perluasan dan dampaknya justru semakin masif langsung kepada perorangan dari berbagai kalangan baik orang tua, remaja, anak kecil. Secara khusus kepada anggota TNI AD, tidak hanya dipandang sebagai media komunikasi dan informasi semata, namun juga media sosial  telah menjadi senjata pihak lain yang dapat mendegradasi nilai-nilai kejuangan dan norma-norma keprajuritan.

"Jika kita cermati di media sosial, saat ini banyak diantara personel TNI yang terlarut dalam candu _gadget (phubbing)_ , dimana dalam berbagai aktifitas ditemukan anggota yang asyik bermain _gadget_ dan berselancar di dunia maya hanya karena ingin eksis dan mencapai status di media sosial ( _social climber_ ). Situasi tersebut tentunya akan mempengaruhi kondisi mental kejuangan prajurit dan kesiapan operasional satuan serta sistem pembinaan di satuan" , jelasnya.

Dikatakan lulusan Akmil 1996 ini, yang lebih berbahaya lagi adalah dampak dari  media sosial sangat kompleks  yang tidak diketahui dan disadari oleh anggota maupun keluarga prajurit.  Berbagai posting foto dan video mereka  banyak digunakan oleh berbagai pihak  untuk kepentingan bisnis, bahkan disalahgunakan oleh  pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menyebarkan konten bermuatan  negatif.

Menurutnya, konten-konten prajurit dan aktifitas satuan yang disebarluaskan  di berbagai  akun media sosial  tersebut banyak yang tanpa ijin atau sepengetahuan dari pemiliknya maupun  satuannya. 

"Mereka asal comot sesuai kepentingannya tanpa memperhatikan dampak negatif bagi anggota maupun TNI AD secara institusi. Publikasi di media sosial tentang TNI memang banyak yang positif, tapi tidak sedikit juga  hal mengandung konten negatif  seperti  aplikasi Tik Tok   yang sempat  ditutup oleh Kemenko dan juga _channel_ di You Tube serta beberapa akun Instagram, " Imbuhnya.

Dalam paparannya, Sapta juga menjelaskan bahwa konten yang diunggah oleh prajurit pada  awalnya hanya untuk lucu-lucuan, namun akhirnya jadi mewabah bahkan seolah-olah
para prajurit dan PNS dari berbagai golongan  berlomba-lomba memposting "karya lucu mereka" yang di "produksi" diberbagai kesempatan baik saat diluar dinas maupun jam saat dinas. 

Menurutnya, dengan adanya  fenomena tersebut makan sebagai unsur pertahanan negara, anggota TNI harus lebih berhati-hati dan waspada karena  sesungguhnya aplikasi yang terhubung dengan akun Medsos dan alamat email sangat mudah untuk dimanfaatkan
sebagai sarana pengumpulan informasi  maupun  pemetaan lokasi satuan dan obyek strategis  (rahasia) milik TNI AD , bahkan akun tersebut dapat dengan mudah   direntas oleh  berbagai pihak  berkepentingan.

"Selain terhadap obyek pangkalan dan kegiatan, hasrat eksistensi  anggota ini juga dapat berimbas kepada  keselamatan para pejabat. Contohnya adalah update status lokasi yang dilakukan pengemudi, pengawal ataupun staf pimpinan TNI di akun medsos mereka " ungkapnya. 

Untuk mengatasi hal tersebut, ditekankan kepada para prajurit maupun PNS TNI AD termasuk ibu Persit harus mem-privasi  akun dan tidak memposting lokasi pada postingan mereka.

" Lagi pula kita harus sadar bahwa segala dokumentasi yang  kita buat sesungguhnya hanya untuk kepentingan pribadi dan mungkin kerabat atau sahabat secara terbatas. Ingat, jati diri kita adalah Tentara Rakyat, Tentara Pejuang, Tentara Nasional dan Tentara Profesional. Kita bukanlah selebritis yang  harus senantiasa  eksis di publik atau di media sosial", ujarnya.

Para prajurit dan PNS jangan ditekankan agar tidak tergoda rayuan dari akun-akun pengumpul foto dan video anggota TNI hanya karena  iming-iming finansial, ketenaran maupun lainnya. Menurutnya,  bagi para akun pengumpul foto dan video,  tentara dan keluarganya  tidak lebih hanya  sebagai obyek pelaris produk yang mereka promosikan.

 "Oleh karenanya diharapkan agar para prajurit menyaring sebelum _sharing_, kemudian pedomani   aturan di TNI AD yang melarang anggotanya   memposting foto pribadi atau orang lain berpakaian dinas di Medsos. Aturan ini tentu tidak hanya di kita saja namun juga di beberapa negara, aturan  bermedia sosial juga diberlakukan dengan sangat keras dan ketat, " tegasnya. 

Selain tentang Medsos, dalam kesempatan tersebut juga disampaikan kepada  350 orang peserta yang hadir bahwa kecerdasan dalam ber-Medsos mutlak diperlukan supaya tidak terjebak oleh berita hoax, ujaran kebencian dan berbagai isu pertentangan  yang ada di dunia Maya.

Kemudian dalam rangka mendaklanjuti kerjasama antara TNI dan Dewan Pers serta media,   juga disampaikan bahwa  semenjak 2017 , secara institusi TNI telah sepakat dan berkomitmen untuk menjaga independensi dan keselamatan wartawan yang tengah menjalankan tugas jurnalistik, sehingga dalam berbagai kesempatan anggota TNI AD harus mampu mengawal dan menjaga komitmen  sinergitas dan soliditas TNI-Media.

"Kita harus ingat, wartawan dan jurnalis pada dasarnya pembawa semangat perjuangan bangsa dari mulai jaman pergerakan kemerdekaan. Bahkan media juga yang telah menamakan nilai -nilai kejuangan bangsa Indonesia yang melekat dengan TNI. Oleh karena itu, wartawan dan jurnalis dapat dikatakan sebagai  saudara tua dari TNI, " pungkasnya.

Bagikan :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015. www.bidikfakta.com - All Rights Reserved •
HomeRedaksiPedoman Media SiberDisclaimer
Media Partner :INDIKASINEWS.COM