Home » » Polres Pasawaran Bersama Polsek Padangcermin Mengamankan Tiga Orang Oknum Wartawan Yang Melakukan Pemerasan

Polres Pasawaran Bersama Polsek Padangcermin Mengamankan Tiga Orang Oknum Wartawan Yang Melakukan Pemerasan

Ditulis oleh : Unknown pada Senin, 28 Januari 2019 | 23.47

Polres Pasawaran Bersama Polsek Padangcermin Mengamankan Tiga Orang Oknum Wartawan Yang Melakukan Pemerasan 

BidikFakta.Com,Bandar Lampung

Kasus pemerasan oleh oknum yang mengatasnamakan wartawan dan lembaga swadaya masyarakat seakan tidak pernah surut di provinsi ini. Sudah banyak pelaku yang diproses hukum, tetapi kasus serupa terus berulang dan berulang.

Satu kasus selesai, muncul lagi kasus yang sama di daerah lain. Bukan tidak mungkin, kasus yang masuk ke ranah hukum hanya puncak gunung es dari ribuan perkara pemerasan yang mengatasnamakan wartawan.

Tim Intelijen Keamanan Polres Pesawaran bersama Polsek Padangcermin menangkap tiga pria yang mengaku wartawan tabloid mingguan, Minggu (27/1). Ketiganya ditangkap usai memeras kepala sekolah dasar negeri di Kecamatan Telukpandan, Pesawaran.

Tiga tersangka yang mengaku wartawan Tabloid Teropong itu, yakni Tamrin (54) dan Dona Firnando (39), keduanya warga Desa Kurungannyawa, Gedongtataan, Pesawaran, serta Iskandar (51), warga Dusun Srimenanti, RT/RW 006/003, Desa Negerisakti, Gedongtataan, Pesawaran. Mereka ditangkap setelah menerima uang Rp7 juta dari Koordinator Dinas Pendidikan Kecamatan Telukpandang, Azhari.

Uang Rp7 juta tersebut merupakan bagian dari komitmen pembayaran Rp25 juta dari seluruh kepala SDN di Kecamatan Telukpandan dan Azhari diminta para tersangka menjadi koordinator penggalang dana. Ketiga tersangka dijerat Pasal 368 KUHP dengan ancaman hukuman 9 tahun penjara.

Aksi pemerasan juga dilakukan sejumlah pria dan seorang wanita terhadap kepala SMP negeri di Kecamatan Tegineneng, Pesawaran, pekan lalu. Mereka meminta uang Rp25 juta dari kepala sekolah, tetapi hanya diberikan Rp5 juta.

Perkara pemerasan yang dilakukan orang yang mengatasnamakan wartawan terjadi hampir merata di seluruh Lampung. Target para pelaku, mulai dari kepala sekolah, kepala desa, kepala puskesmas, dan para pemangku jabatan publik di tingkat desa.

Masih jelas dalam ingatan, saat puluhan kepala sekolah di Lampung Tengah beramai-ramai mundur karena tidak tahan lagi diperas oknum wartawan/LSM tiga tahun silam. Sepak terjang komplotan wartawan gadungan itu sudah sangat meresahkan serta mengganggu tugas pokok dan fungsi kepala sekolah. Situasi ini pada akhirnya berdampak pada kinerja kepala sekolah terutama dalam memajukan dunia pendidikan di Lampung.

Pemerintah daerah sudah tak kurang-kurang memberikan jaminan perlindungan kepada para kepala sekolah itu agar tidak takut jika didatangi wartawan/LSM. Advokasi yang sama juga sudah dilakukan organisasi pers karena aksi pemerasan itu jelas mencoreng profesi wartawan. Namun, faktanya para kepala sekolah tetap saja ketakutan.

Belajar dari kejadian di Pesawaran, memang perlu ada keberanian untuk melawan. Namun, perlawanan tetap dilakukan tanpa harus melanggar hukum. Semisal, meningkatkan kerja sama dengan aparat kepolisian terdekat atas sepengetahuan dari Dinas Pendidikan kabupaten.

Setiap informasi yang beraroma pemerasan dapat segera dilaporkan di grup media sosial kepala sekolah. Dengan demikian, kepala sekolah dapat terhindar dari aksi pemerasan. Kepala sekolah harus punya lebih banyak waktu, tenaga, dan pikiran untuk menjadi manajer pendidikan di lingkungan sekolahnya.

(Eva Andryani)

Bagikan :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015. www.bidikfakta.com - All Rights Reserved •
HomeRedaksiPedoman Media SiberDisclaimer
Media Partner :INDIKASINEWS.COM