Home » » PT. Lionmesh Prima Tbk. Menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan

PT. Lionmesh Prima Tbk. Menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan

Ditulis oleh : Unknown pada Senin, 24 Juni 2019 | 02.29

Bidikfakta.com- Jakarta, PT.Lionmesh Prima Tbk. menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) bertempat di Hotel JW Marriott, Jakarta, Senin (24/06/2019).

Pada RUPST tersebut dijelaskan bahwa pada tahun 2018 penjualan neto Perseroan yakni sebesar Rp 240,03 miliar atau meningkat 6,98% dibanding pada tahun lalu dan laba neto sebesar Rp 2,89 miliar.

Selain itu Hasil Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan tersebut diantaranya menyetujui perubahan Anggaran Dasar Perseroan yaitu perubahan pasal 3 untuk disesuaikan dengan KBLI 2017 dan tidak mengubah kegiatan usaha utama Perseroan serta menyetujui memberikan kuasa kepada Direksi Perseroan dengan hak subsitusi untuk melakukan segala tindakan yang diperlukan dalam rangka penyesuaian Anggaran Dasar tersebut.

Dijelaskan pula bahwa pembagian dividen tunai sebesar Rp 5,- setiap saham atau seluruhnya sebesar Rp 480.000.000,- sebelum dipotong pajak yang akan dibayarkan atas 96.000.000. Saham.

Pada Paparan Publik tersebut Tjoe Tjoe Peng/Lawer Supendi (Direktur Utama) memaparkan bahwa Rp 100.000.000,- akan digunakan untuk pembentukan "Cadangan Wajib" untuk memenuhi ketentuan pasal 70 UU PT.No.40 tahun 2007 dan sisanya sebesar Rp 2.306.727.390,- dimasukkan sebagai laba yang ditahan.

"Pembayaran dividen tunai akan dilakukan dengan cara Pemegang Saham yang berhak atas dividen tunai adalah para Pemegang Saham yang namanya tercatat pada Daftar Pemegang Saham Perseroan tanggal 4 Juli 2019 dan pembayaran dividen tunai pada tanggal 23 Juli 2019, pembayaran dividen tunai akan diumumkan dalam surat kabar tanggal 26 Juni 2019", tuturnya saat Paparan Publik.

Selain itu Tjoe Tjoe Peng/Lawer Supendi menjelaskan bahwa PT.Lionmesh Prima Tbk. bergerak di bidang usaha Industri Jaring Kawat Baja Las dan didirikan pada tahun 1982.

"Luas Area di Jakarta 9.500 m2 dan Luas Pabrik adalah 5.700 m2 dengan jumlah karyawan tetap sebanyak 119 orang", terangnya.

Menurut Tjoe Tjoe Peng/ Lawer Supendi, tingkat pertumbuhan ekonomi tahun 2018 tumbuh cukup baik, namun prediksi pertumbuhan untuk tahun 2019 terus terkoreksi ke bawah.

"Memburuknya hubungan dagan AS- Tiongkok pada tahun 2018 mengakibatkan ketidakpastian dalam perdagangan global, termasuk industri baja dan secara makro, ekonomi Indonesia tahun 2018 cukup stabil seperti data- data yang ditunjukkan", ujarnya.

Tjoe Tjoe Peng/ Lawer Supendi  juga menambahkan terkait dampak dari perang dagang antara Amerika Serikat- Tiongkok dan pengaruh dari keputusan Presiden Trump atas tarif impor logam.

"Kondisi ekonomi dunia menjadi menurun, kontraksi pada sektor properti yang memperlambat sektor konsumsi walaupun sektor infrastruktur masih tumbuh relatif sehat, selain itu permintaan baja untuk pabrik Tiongkok mengalami penurunan, namun kapasitas produksi dalam negeri Tiongkok meningkat", terangnya.

"Tahun 2019 merupakan tahun yang menantang untuk Perseroan yang diakibatkan antara lain dinamika politik menjelang dan setelah Pemilu 2019, perang dagang AS- Tiongkok yang berdampak terpuruknya pasar secara global, selain itu industri baja nasional harus berkonsolidasi untuk menghadapi potensi serbuan baja dari negara tetangga dan fluktuasi harga baja dunia serta mencari strategi untuk menghadapi tantangan dari produk baja yang bermutu rendah", pungkasnya.

(RD)

Bagikan :

Posting Komentar

 
Copyright © 2015. www.bidikfakta.com - All Rights Reserved •
HomeRedaksiPedoman Media SiberDisclaimer
Media Partner :INDIKASINEWS.COM